| Category: | Music |
| Genre: | Other |
| Artist: | Tcukimay |
Saya
kenal band ini dari Mbie gitaris Jeruji sekitar tahun 2002. Sebelumnya
saya pernah juga dengar nama band ini dari beberapa kawan yang biasa
nongkrong di belakang BIP. Pada masa itu term ‘punk’ mengalami banyak
pergeseran makna. Terutama dari sisi fashion dan pergerakan industry
music. Ada semacam redefinisi kultur yang sengaja diciptakan oleh para
pelaku industry fashion dan industry music global dengan cara
menghadirkan ikonikon baru sebagai ‘agen’ lalu diberi label ‘punk’.
Masih segar dalam ingatan saya ketika Blink 182 hadir sebagai ikon
‘punk’ dengan gaya khas mereka. Nampak bodoh, looser, gaya nakal khas
anak rumahan dan tentu saja musik yang ringan dan ‘menyegarkan’. Avril
Lavigne yang dengan sukses memperkenalkan sabuk dan gelang spike sebagai
ikon ‘punk’. Demam musik dan fashion ini serentak menyeruak ditengah
kehidupan anak muda Bandung dan tentu saja para pelaku industry
menangguk keuntungan yang besar. Nyaris semua anak muda Bandung pada
saat itu menjadikan sabuk dan gelang spike sebagai identitas ‘punk’.
Secara pribadi pandangan saya tentang punk masih sebatas pada tampilan visual saja. Image punk yang terbentuk dalam benak saya adalah sebuah tampilan musik dan fashion yang ofensif dan ‘mengancam’. Ketika trend ‘punk baru’ mewabah di kota Bandung dengan tampilan yang baru jelas membuat saya terheran-heran karena persepsi saya tentang ‘punk’ jelas tidak seperti itu. Masa tahun 2000an adalah masa-masa yang aneh karena beberapa ekspresi budaya kontemporer seperti ‘punk’ mengalami proses ekploitasi dan redefinisi secara paksa memanfaatkan sarana media global. Munculnya aliran ‘post’ di segala aliran musik. Post-hardcore lah, post-rock lah, post-pop lah, dan post-post lainnya.
Hingga akhirnya saya berkesempatan juga bisa nonton Tcukimay secara langsung. Musik mereka yang agresif, lirik yang kasar, dan tentu saja tampilan fashion yang ofensif menjadikan kebuntuan dan kerinduan saya pada kultur punk menurut definisi saya akhirnya bisa terpuaskan. Bersama Tcukimay saya seolah menemukan kanal ekspresi dan apresiasi yang baru ditengah hingar-bingar kooptasi industry dan media terhadap kultur ‘punk’.
Saya harus mengakhiri sesi nostalgia dan akan bicara tentang album perdana mereka yang diberi title sesuai nama band, Tcukimay. Dalam album ini ada 14 track termasuk intro yang terkemas dalam kualitas audio jempolan. Artwork cover yang digarap serius dan melibatkan seniman professional membuat isi dan kemasan menjadi sebuah paket yang sempurna. Berbicara musik Tcukimay berarti membicarakan pertemuan dua genre musik yang sama-sama agresif. Dalam album ini nampak sekali pengaruh metal yang sangat pekat. Banyak kejutan nada yang bisa ditemukan dalam beberapa komposisi mereka.
Simpelnya bayangkan saja apabila Slayer dan Suffocation berjumpa dengan The Exploited di era 80-an dan Tcukimay berhasil ‘menundukan’ mereka semua.
Khusus untuk lagu ‘Anjing Tirani’ mereka menggandeng Amenk ‘GrindBusuk’ Disinfected sebagai vokalis tamu. Perpaduan gaya yang sempurna karena komposisi lagu yang dibuat memungkinkan mereka berdua bisa hadir dengan karakternya masing-masing. Lirik yang jadi media penyampai pesan disampaikan dalam tiga bahasa. Dominan bahasa Inggris dan Sunda kasar. Secara tema tidak ada hal baru yang disampaikan, tema yang diangkat masih seputar kritik terhadap realitas sosial yang terjadi.
Kabar terbaru mereka sedang menyiapkan sebuah komposisi kolaborasi dengan musisi tradisional. Perpaduan musik modern dan perkusi tradisional menjadikan komposisi ini makin bernyawa dan membentuk sebuah warna baru yang khas.
Cukup saya terlalu banyak menulis tentang Tcukimay, kenakan kembali boots kalian, tegakan kembali rambut kalian dan jadikan spike sebagai asesories yang mengancam. Silahkan cari aja rilisan mereka di distro-distro dan toko cd. Dengarkan mereka dan saya percaya Rocket Rockers dan band 'post punk' lainnya akan tersipu malu mendengarkan rilisan Absolute Records ini.
Enjoy Anjing!…
Secara pribadi pandangan saya tentang punk masih sebatas pada tampilan visual saja. Image punk yang terbentuk dalam benak saya adalah sebuah tampilan musik dan fashion yang ofensif dan ‘mengancam’. Ketika trend ‘punk baru’ mewabah di kota Bandung dengan tampilan yang baru jelas membuat saya terheran-heran karena persepsi saya tentang ‘punk’ jelas tidak seperti itu. Masa tahun 2000an adalah masa-masa yang aneh karena beberapa ekspresi budaya kontemporer seperti ‘punk’ mengalami proses ekploitasi dan redefinisi secara paksa memanfaatkan sarana media global. Munculnya aliran ‘post’ di segala aliran musik. Post-hardcore lah, post-rock lah, post-pop lah, dan post-post lainnya.
Hingga akhirnya saya berkesempatan juga bisa nonton Tcukimay secara langsung. Musik mereka yang agresif, lirik yang kasar, dan tentu saja tampilan fashion yang ofensif menjadikan kebuntuan dan kerinduan saya pada kultur punk menurut definisi saya akhirnya bisa terpuaskan. Bersama Tcukimay saya seolah menemukan kanal ekspresi dan apresiasi yang baru ditengah hingar-bingar kooptasi industry dan media terhadap kultur ‘punk’.
Saya harus mengakhiri sesi nostalgia dan akan bicara tentang album perdana mereka yang diberi title sesuai nama band, Tcukimay. Dalam album ini ada 14 track termasuk intro yang terkemas dalam kualitas audio jempolan. Artwork cover yang digarap serius dan melibatkan seniman professional membuat isi dan kemasan menjadi sebuah paket yang sempurna. Berbicara musik Tcukimay berarti membicarakan pertemuan dua genre musik yang sama-sama agresif. Dalam album ini nampak sekali pengaruh metal yang sangat pekat. Banyak kejutan nada yang bisa ditemukan dalam beberapa komposisi mereka.
Simpelnya bayangkan saja apabila Slayer dan Suffocation berjumpa dengan The Exploited di era 80-an dan Tcukimay berhasil ‘menundukan’ mereka semua.
Khusus untuk lagu ‘Anjing Tirani’ mereka menggandeng Amenk ‘GrindBusuk’ Disinfected sebagai vokalis tamu. Perpaduan gaya yang sempurna karena komposisi lagu yang dibuat memungkinkan mereka berdua bisa hadir dengan karakternya masing-masing. Lirik yang jadi media penyampai pesan disampaikan dalam tiga bahasa. Dominan bahasa Inggris dan Sunda kasar. Secara tema tidak ada hal baru yang disampaikan, tema yang diangkat masih seputar kritik terhadap realitas sosial yang terjadi.
Kabar terbaru mereka sedang menyiapkan sebuah komposisi kolaborasi dengan musisi tradisional. Perpaduan musik modern dan perkusi tradisional menjadikan komposisi ini makin bernyawa dan membentuk sebuah warna baru yang khas.
Cukup saya terlalu banyak menulis tentang Tcukimay, kenakan kembali boots kalian, tegakan kembali rambut kalian dan jadikan spike sebagai asesories yang mengancam. Silahkan cari aja rilisan mereka di distro-distro dan toko cd. Dengarkan mereka dan saya percaya Rocket Rockers dan band 'post punk' lainnya akan tersipu malu mendengarkan rilisan Absolute Records ini.
Enjoy Anjing!…
Tags: music review
Prev: Tiga Angka EnamNext: Promo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar